Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Insan Desa menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dengan kemasan yang memadukan syiar agama, edukasi sejarah, dan pelestarian kesenian lokal. Berlangsung di Sekretariat PKBM Insan Desa pada Rabu (9/9/2026), acara ini mengusung misi utama: merajut ukhuwah, menguatkan iman, serta meneladani akhlak Rasulullah dalam kehidupan nyata.
Puluhan warga belajar tampak memadati lokasi acara bersama para tamu undangan. Sinergi lintas elemen terlihat dari kehadiran Kepala Desa Cibugel, Perwakilan Koramil Cibugel, jajaran Komite Sekolah, serta para penyelenggara yang dipimpin langsung oleh Kepala PKBM Insan Desa, Nina Mulyani, S.Kom., beserta para tutor dan pengelola.

Kemeriahan acara diawali dengan panggung apresiasi budaya yang menyedot perhatian hadirin. Warga belajar Kelas 12 Program Paket C, Rizki Hardiansyah, memukau tamu undangan lewat pertunjukan “Gawang” (Gambus dan Wayang). Melalui sabetan wayang bernapaskan dakwah yang diiringi irama gambus, Rizki berhasil menerjemahkan pesan-pesan moral Islam ke dalam medium kearifan lokal.

Kepala PKBM Insan Desa, Nina Mulyani, S.Kom., menegaskan bahwa integrasi antara peringatan keagamaan dan seni budaya ini adalah wujud nyata dari visi pembentukan karakter di lembaganya.
“Peringatan Maulid Nabi ini bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi momentum bagi kita semua untuk merefleksikan kembali nilai-nilai keteladanan Rasulullah SAW. Kehadiran berbagai pihak, termasuk Komite Sekolah, Kepala Desa, dan Koramil, adalah wujud sinergi dan ukhuwah yang luar biasa. Melalui panggung ini, kami juga ingin menunjukkan bahwa warga belajar PKBM Insan Desa, seperti ananda Rizki dengan seni ‘Gawang’-nya, mampu berkreasi, percaya diri, dan turut melestarikan budaya bangsa dengan napas Islami,” tegas Nina Mulyani.
Mengupas Makna Historis dan Hakikat Maulid
Memasuki acara inti, penceramah Rizki Putri A., S.Sos., membawakan tausiyah komprehensif yang mengupas tuntas esensi peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Dalam paparannya, ia menekankan bahwa Maulid—yang berasal dari bahasa Arab dan bermakna hari kelahiran—harus dimaknai lebih dari sekadar perayaan seremonial.
“Di Indonesia, peringatan Maulid berkembang dalam berbagai bentuk, mulai dari pengajian, pembacaan sirah, shalawat, sedekah, hingga kegiatan pendidikan seperti yang kita laksanakan hari ini. Namun, memahami Maulid menuntut kita untuk menyelami asal-usul sejarahnya dan mewujudkan cinta kepada Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari,” urai Rizki Putri.
Secara historis memang terdapat berbagai versi mengenai asal-usul peringatan Maulid secara besar-besaran. Beberapa literatur sejarah mencatat peran Dinasti Fatimiyah, hingga peran tokoh-tokoh besar seperti Sultan Muzhaffaruddin al-Kaukabri di Irbil pada awal abad ke-7 Hijriah, serta Shalahuddin Al-Ayyubi yang memanfaatkannya untuk membangkitkan semangat persatuan umat di masa Perang Salib.

Meskipun peringatan seremonial tahunan seperti saat ini tidak dilakukan pada masa Rasulullah, kita patut menggarisbawahi sebuah hadis sahih riwayat Imam Muslim:
“Ketika ditanya mengapa beliau berpuasa pada hari Senin, Rasulullah menjawab bahwa pada hari itulah beliau dilahirkan dan wahyu diturunkan. Ini menunjukkan bahwa kelahiran Rasulullah memiliki kedudukan istimewa, dan mengingat nikmat serta bersyukur kepada Allah adalah hal yang dianjurkan dalam Islam.”
Lima Nilai Penting dalam Kehidupan Sehari-hari
Di hadapan warga belajar dan tamu undangan, Rizki Putri menjabarkan lima makna esensial Maulid Nabi bagi umat Islam masa kini:
- Menumbuhkan Kecintaan kepada Rasulullah: Cinta sejati bukan sebatas lisan, melainkan diwujudkan melalui usaha mempelajari sejarah hidup (sirah) beliau dan mengikuti sunnah serta akhlaknya, termasuk bagaimana beliau memimpin, berdakwah, dan menyayangi sesama.
- Mengingat Perjuangan Dakwah: Perjalanan dakwah Nabi yang penuh tantangan, penolakan, hingga ancaman adalah pelajaran tentang kesabaran dan tawakal. Semangat pantang menyerah ini sangat relevan untuk diteladani oleh para warga belajar dalam menuntut ilmu.
- Memperbanyak Shalawat: Membaca shalawat adalah bentuk penghormatan dan pengingat agar umat Islam terus memohon keberkahan dari Allah untuk Nabi Muhammad SAW.
- Meneladani Akhlak (Uswatun Hasanah): Sebagaimana termaktub dalam QS Al-Ahzab ayat 21, peringatan Maulid harus membuahkan perubahan akhlak. “Tidak ada gunanya rajin menghadiri Maulid jika kita masih berdusta, berbuat zalim, atau mengabaikan hak orang lain. Kita harus belajar menjadi pribadi yang amanah, penyayang, dan jujur,” tekan Rizki.
- Meningkatkan Rasa Syukur: Kehadiran Rasulullah adalah nikmat terbesar karena membawa petunjuk risalah Islam. Rasa syukur ini diwujudkan lewat amal kebajikan dan ibadah.
Memperkuat Ukhuwah Islamiyah
Mengakhiri paparannya, penceramah mengingatkan bahwa Maulid Nabi adalah sarana yang sangat kuat untuk merajut persatuan (Ukhuwah Islamiyah). Berkumpulnya warga belajar, aparatur pemerintah desa, TNI, dan komite sekolah dalam majelis tersebut adalah bukti nyata dari persatuan umat. Peringatan Maulid Nabi di PKBM Insan Desa ditutup dengan doa dan ramah tamah. Melalui kegiatan yang sarat gizi spiritual dan edukasi budaya ini, PKBM Insan Desa kembali menegaskan perannya bukan hanya sebagai tempat menebus ijazah, melainkan sebagai kawah candradimuka yang mencetak generasi tangguh, berakhlak mulia, dan berakar kuat pada nilai-nilai luhur agama dan budaya.