Di usia muda, kebanyakan orang mungkin masih sibuk mencari jati diri atau sekadar menikmati waktu luang bersama teman-teman. Namun, pemandangan berbeda terlihat di sebuah peternakan yang asri, sejuk, dan terawat rapi. Di sanalah Alan, salah satu warga belajar kebanggaan kita dari PKBM Insan Desa, tengah sibuk mengurus belasan ekor kambing peliharaannya.
Alan bukanlah pemuda biasa. Ia adalah potret nyata bahwa semangat belajar dan keberanian berwirausaha bisa berjalan beriringan, membuktikan bahwa kesuksesan bukan milik mereka yang sekadar duduk diam, melainkan mereka yang berani berproses.
Mulai dari Langkah Kecil
Perjalanan wirausaha Alan di bidang peternakan kambing ini terbilang masih sangat baru. Ia mulai merintisnya pada bulan Juni 2025. Tidak langsung besar, Alan memulainya secara perlahan dan bertahap. Dengan dukungan modal dan kepercayaan dari pihak keluarga, ia mulai membeli dua ekor kambing dan menyiapkan kandang yang layak.
Berkat ketekunan dan kesabarannya mengurus peternakan setiap hari, usaha yang awalnya kecil itu kini telah berkembang. Kini, Alan merawat tak kurang dari 17 ekor kambing, baik jantan maupun betina.
Mematahkan “Gengsi” Anak Muda
Apa rahasia Alan? Jawabannya ada pada pola pikirnya yang luar biasa dewasa. Bagi Alan, tidak ada kata “gengsi” dalam kamus hidupnya selama pekerjaan yang dilakukan itu halal, positif, dan tidak merugikan orang lain.
Lihat juga : Video Rajin Sekolah, Rajin Ternak Inspirasi dari warga belajar PKBM Insan Desa
“Prestasi itu tidak menentukan Anda sukses, tapi sukses itu ditentukan oleh kita berproses,” ujar Alan dengan penuh keyakinan.
Kalimat tersebut menjadi pengingat keras bagi generasi muda saat ini yang sering kali terhalang oleh rasa gengsi untuk memulai usaha dari bawah. Alan membuktikan bahwa tidak perlu malu menjadi peternak. Dari kandang kambing yang ia bersihkan setiap hari, ada masa depan cerah yang sedang ia bangun.
Tantangan Terbesar: Melawan Diri Sendiri
Tentu saja, perjalanan Alan tidak selalu mulus. Mengurus peternakan butuh tenaga ekstra dan sering kali mendatangkan rasa lelah fisik. Namun, tantangan terberat bagi Alan justru adalah bagaimana memanajemen waktu.
Sebagai anak muda, hasrat untuk bermain dan bersenang-senang tentu masih ada. Di sinilah kedewasaan Alan diuji. Ia dituntut untuk bisa membagi waktu dengan bijak: mana waktu untuk kehidupan pribadi, mana waktu untuk mengurus bisnis peternakannya, dan yang paling penting, mana waktu untuk tetap menempuh pendidikan di program kesetaraan.
Pendidikan Tetap Nomor Satu
Meski perlahan mulai mencicipi manisnya hasil berwirausaha, Alan sadar betul bahwa pendidikan tidak boleh ditinggalkan. Mengikuti Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di PKBM adalah bekal penting untuk menata masa depannya agar lebih terarah. Harapannya jelas: tidak hanya sukses lulus ujian kesetaraan dan mendapatkan ijazah, tetapi juga terus melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi untuk mendukung impian-impian besarnya.
Pesan untuk Kita Semua
Kisah Saudara Alan dari PKBM Insan Desa ini adalah pemicu semangat bagi kita semua, para warga belajar di mana pun berada. Wirausaha bisa dilakukan di bidang apa saja—tidak harus peternakan. Ada yang mungkin berbakat di bidang kuliner, jasa, digital, atau kerajinan.
Kuncinya hanya tiga: buang rasa gengsi, hargai sebuah proses, dan jangan pernah tinggalkan pendidikan. Mari kita jadikan kisah Alan sebagai inspirasi untuk terus bergerak maju. Jika Alan bisa merintis kesuksesannya dari sekarang, kita pun pasti bisa!

