Header Mobile - E-Perpus PKBM

Novel Fatiha : Bulan Berdarah 3 – Menuju Fase Akhir Zaman

Penulis: Fatiha

Seri: Jejak Kiamat di Seri Bulan Berdarah

Bagaimana jika esok pagi langit berhenti menumpahkan air, bumi mulai terbelah, dan hitung mundur pemusnahan massal resmi dimulai?

Kita sering melihat ketegangan di Selat Hormuz atau ketergantungan global pada kekuatan Timur Tengah hanya sebagai berita lalu di layar kaca. Namun, bagaimana jika semua huru-hara geopolitik hari ini adalah serpihan puzzle yang mulai terpasang? Bagaimana jika Indonesia, yang merasa aman karena jaraknya yang jauh, sebenarnya sedang mengantre di garis takdir yang sama?

Novel ini tidak membawa Anda ke masa depan yang asing, melainkan ke sebuah realitas yang terasa setarikan napas dari hari ini. Bersiaplah menyusuri fase demi fase kronologi akhir dunia yang menggetarkan jiwa:

  • Tiga Tahun Sunyi: Saat langit mengunci hujannya dan bumi retak meranggas.

  • 40 Hari Teror: Waktu berjalan ganjil saat Dajjal keluar. Hari pertama terasa sepanjang satu tahun, disusul hari sepanjang sebulan, seminggu, hingga dunia tak lagi sama.

  • 7 Tahun Masa Tenang: Kepemimpinan Imam Mahdi yang membawa secercah harapan, sebelum akhirnya gerombolan Yajud & Majud menginvasi tanpa ampun.

  • Satu Hembusan Angin: Angin lembut dari Yaman yang menyapu bersih sisa orang-orang beriman, meninggalkan dunia dalam kegelapan mutlak.

  • 120 Tahun Sisa: Waktu tanpa hidayah bagi mereka yang tertinggal untuk mencari jejak-jejak agama yang telah hilang, hingga kehancuran semesta benar-benar tiba.

Apakah kita sudah siap? Ketika dunia runtuh, satu-satunya benteng yang tersisa hanyalah sepuluh ayat pertama dari Surat Al-Kahfi.

Bulan Berdarah 2: Fase Akhir Jaman adalah sebuah fiksi apokaliptik yang berani. Dengan gaya penceritaan yang intens, Fatiha merajut nubuat akhir zaman menjadi narasi yang memikat. Penyesuaian diksi sengaja dilakukan untuk menegaskan batas fiksi, namun esensi peringatannya akan membuat bulu kuduk Anda meremang.

Buka buku ini, dan Anda tidak akan pernah memandang dunia dengan cara yang sama lagi.

“Barang siapa yang menyampaikan satu ilmu saja, lalu ada orang yang mengamalkannya, meskipun ia telah tiada, pahala tetap mengalir kepadanya.” (Hadis)